1147652_314435972036050_464178034_o
Sejarah Terbentuknya Terminal Hujan

Pertama hal itu dimulai dari pertemuan Anggun dengan Ibu drg. Wan Aisyah atau biasa dipanggil Umi. Beliau adalah mantan ketua Dinkes Kota Bogor yang juga aktif di PKK kota Bogor dan ketua Lembaga Perlindungan Anak Kota Bogor. Beliau memberikan pengajaran, pemberdayaan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai belakang terminal bus Br.Siang (kampung Kebon Jukut). Melihat hal tersebut, Anggun mulai berkorespondensi dengan Ibu Awan untuk ikut serta membantu pemberdayaan masyarakat. Ternyata masih banyak anak-anak di sekitar kampung yang mengalami beberapa masalah pendidikan, seperti kesulitan membaca, berhitung, kebiasaan malas belajar, dan yang lebih mengerikan lagi, dikarenakan tempat tinggal mereka tepat di belakang terminal Baranangsiang, ancaman-ancaman seperti turun ke jalan untuk menjadi pengamen, tawuran, bahkan drop out dari sekolah cukup tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, maka Anggun bersama-sama kedua temannya, yaitu Sela dan Mario bekerja sama dengan umi untuk menyusun sebuah kurikulum dan “rumah” bimbingan bagi adik-adik yang tinggal di kampung Kebon Jukut, sepanjang bantaran sungai Ciliwung. Awalnya, dilakukanlah asesmen mengenai kebutuhan pendidikan adik-adik, ternyata kemampuan baca tulis hitung adalah hal yang menjadi prioritas untuk dilatihkan segera. Selain itu, keberadaan Umi Awan sebagai sosok yang dihormati oleh masyarakat Kebon Jukut juga sangat memudahkan kami memasuki kawasan tersebut.

Akhirnya, disepakatilah bahwa “sekolah alam” tersebut diberi nama Komunitas Terminal Hujan. Dengan mengajak lebih banyak relawan, yang awalnya terdiri dari sahabat-sahabat Anggun, Mario, dan Sela, Terminal Hujan sedikit demi sedikit berhasil mengumpulkan lebih banyak adik-adik. Dari segi jumlah relawan pun meningkat, banyak relawan-relawan yang berasal dari Jakarta Timur hingga Cikarang turut serta mengajar setiap hari Minggu siang.

Dari semula adik-adik yang mengikuti kegiatan Terminal Hujan setiap Minggu berjumlah 30-40 orang, saat ini meningkat menjadi 80 orang. Awalnya, setiap kegiatan belajar akan dimulai, para relawan harus menjemput adik-adik satu persatu ke setiap rumah mereka. Namun, saat ini sebelum acara belajar dimulai, adik-adik sudah stand by di halaman kantor kelurahan Baranangsiang, tempat kegiatan belajar mengajar kami dilaksanakan.

Ketiadaan tempat untuk berteduh menyebabkan kami harus berpindah-pindah dan belajar di alam terbuka, seperti di lapangan, trotoar, halaman kantor kelurahan, dll. Oleh karena itu, komunitas ini dinamakan Terminal Hujan, karena terletak di belakang Terminal Baranangsiang dan jika hujan datang, kami harus bubar.

Setelah 2 tahun perjalanannya, Terminal Hujan tidak hanya memfokuskan perhatian pada pendidikan adik-adik, namun juga melebarkan sayap ke pemberdayaan ekonomi untuk ibu-ibu, dengan cara membuat pelatihan telur asin setiap minggu dan membudayakan menabung di setiap minggunya. Hal ini dilakukan dengan tujuan melatih ibu-ibu menyusun keuangan rumah tangga yang lebih baik dan membantu perekonomian mereka. Hingga saat ini, setiap minggu ibu-ibu kampung Kebon Jukut berhasil memproduksi 300-400 butir telur asin yang mereka jual sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *